Monday, May 18, 2020

Disaat Peganganku Mulai Terlepas

ehmmm....
Apa kabar kalian di sana? jangan bohong, kurasa sekarang semua sedang tidak baik-baik saja. Ntah itu perasaan, keadaan, ataupun pikiran. Aku pun begitu.

Disaat seperti ini kurasa memang sudah waktunya kita untuk tidak membohongi perasaan sendiri, tidak egois pada diri sendiri atau pun orang lain. Ya, menjaga diri dan menjaga orang lain. Sama-sama saling mengingatkan, menasihati bahkan boleh menegur. Seringkali aku berceloteh di media sosial, marah karena mereka yang tidak menerapkan physical distancing, bahkan terkadang umpatan tak tersampaikan pun ikut tercuat dalam pikiran. 

Aku begitu optimis bahwa lambat laun situasi ini akan sesesai, akan muncul titik terang. Lalu, ketika optimisme akan pulihnya semesta memudar ini, aku berpegangan padanya, orang kepercayaan yang tentunya lebih daripada aku. Tapi aku lupa bahwa kekuatan orang itu ada batasnya. Hingga hari ini, seiring dengan masalah yang tak kunjung bertitik, orang itu mulai lelah, orang itu mulai melemah, berbicara padaku bahwa Ia sudah pasrah. Kalo sudah begini, peganganku perlahan juga ikut terlepas. Aku terbang tanpa arah. Mencari tempat terbaik untuk menetap, walau nyatanya semua tempat sudah tidak ada yang layak untuk menetap. Entah nanti aku akan tertangkap tangan baik atau sang pemangsa. 

Disaat seperti ini yang terbesit dipikiranku hanya satu, mengangkat tangan dan meminta.


01000010 01110101 01101110 01100100 01100001
aku harap kau kembali kuat, karena kau pegangan banyak orang terutama aku. Please, bila itu kau, aku bingung bagaimana cara yang tepat untuk menasihatimu. Karena kau jauh di atasku dan keras kepala.


Untuk aku dan semua tetap semangat, memang tidak mudah tapi mari berpegangan tangan karena kita tidak sendiri. Cepat sembuh semestaku, bumiku, dan duniaku.

quarantine day/covid-19/19520/el

Tuesday, October 15, 2019

Cerita satu

Nggak Tau


Beberapa hari ini, putri dari ibu kos mulai belajar ngomong. Kalo manggil mama tuh keras banget kedengeran sampe kamarku. Nggak tau kenapa, seneng gitu dengernya. Pasti seorang ibu akan senang dengan perkembangan anaknya, walau sesederhana itu. Aku aja yang bukan ibunya dan belum menjadi ibu, merasa senang dengarnya apalagi ibunya :"). 


Sebenarnya kalo dipikir-pikir lagi, kebahagiaan seorang ibu itu emang sederhana. Melihat keluarganya tersenyum, ya memang sesederhana itu.


Jadi teringat beberapa hari lalu, saat aku ngasih kabar ke orang rumah kalo aku dirujuk opname. Nggak tega sebenarnya, tapi mau gimana lagi, anak rantau, uang saku mepet, nggak punya asuransi, mana bisa opname mandiri. Waktu itu ibu nangis ditelepon, memang beliau tidak menunjukkannya secara langsung. Tapi aku tau, beliau menangis. Beliau kecewa akan aku yang nggak bisa jaga diri disini. Beberapa hari setelah itu, ibu baru bisa datang, SENDIRI padahal bisa dibilang jarak yang ditempuh tidak dekat, ya memang ibukku setangguh itu. Terimakasih untuk ibu yang telah menjadi ibuku, terimaksih untuk Tuhan yang memberikanku ibu sesempurna itu. Semesta memang tidak pernah mengecewakanku. 

Friday, October 4, 2019

aku :')


Sepohon Pisang

            Dia sudah busuk, sebelum ia beranak-pinak, tidak. Bahkan ia sudah busuk sebelum ia merakar. Sepohon pisang yang seharusnya memberi manfaat bagi lingkungan, malah sebaliknya. Ia terjebak dengan dirinya sendiri. Ia bingung. Hingga ia tak tau arah lalu menyakiti yang lain. Menebar kebusukan-kebusukan. Ya, dia jahat. Berulang kali ia melakukan kesalahan fatal, tapi lihat sekitar masih saja peduli padanya. Sungguh beruntung dia. Kau ingat, saat dia selalu saja berbincang di saat yang seharusnya sunyi, sekitar selalu mengingatkan. Lalu saat ia ingin dinilai menjadi yang terbaik, sekitar tak merasa atau mereka pura-pura tidak merasa. Ya, dia juga egois. Dan lagi, saat ia memperlihatkan kelemahannya, sekitar masih saja peduli. Lemah.
            Dengan semua keburukan itu, ia masih diterima sekitar. Tak tau kapan kata ‘masih’ berubah menjadi kata ‘sudah tidak’. Semoga jangan! Karena sepohon pisang itu adalah aku. Ya, itu memang aku. Manusia lemah yang tak akan ada artinya tanpa semesta. Aku buruk, tapi setidak-tidaknya aku masih mau mengakuinya dan berusaha untuk memperbaikinya. Tunggu, apa kau ingat tentang sesuatu-sesuatu di masa lalu yang ingin kau perbaiki tetapi selalu semakin memburuk? Hahahaha.

Friday, August 23, 2019

first post

My Story

Hallo my ant! Cerita ini berawal dari aku yang rindu rumah. Membawanya menjadi sebuah cerita yang akan dibaca kaum manusia lainnya. Perkenalkan namaku echa, nama pena sebenarnya :v. Aku berasal dari tanah yang sama seperti yang kalian pijak hari ini. Terimakasih untuk mengunjungi lapakku, membaca setiap kata tanpa makna, tapi penuh cerita. Untuk ke depannya mungkin blog ini akan lebih sering membagikan sajak, cerita, ataupun segala hal yang berbau rindu. Sekian dulu ya, thanks my ant.