Sepohon Pisang
Dia sudah busuk, sebelum ia beranak-pinak,
tidak. Bahkan ia sudah busuk sebelum ia merakar. Sepohon pisang yang seharusnya
memberi manfaat bagi lingkungan, malah sebaliknya. Ia terjebak dengan dirinya
sendiri. Ia bingung. Hingga ia tak tau arah lalu menyakiti yang lain. Menebar
kebusukan-kebusukan. Ya, dia jahat.
Berulang kali ia melakukan kesalahan fatal, tapi lihat sekitar masih saja
peduli padanya. Sungguh beruntung dia. Kau ingat, saat dia selalu saja
berbincang di saat yang seharusnya sunyi, sekitar selalu mengingatkan. Lalu
saat ia ingin dinilai menjadi yang terbaik, sekitar tak merasa atau mereka
pura-pura tidak merasa. Ya, dia juga
egois. Dan lagi, saat ia memperlihatkan kelemahannya, sekitar masih saja
peduli. Lemah.
Dengan semua keburukan
itu, ia masih diterima sekitar. Tak tau kapan kata ‘masih’ berubah menjadi kata
‘sudah tidak’. Semoga jangan! Karena sepohon pisang itu adalah aku. Ya, itu
memang aku. Manusia lemah yang tak akan ada artinya tanpa semesta. Aku buruk,
tapi setidak-tidaknya aku masih mau mengakuinya dan berusaha untuk
memperbaikinya. Tunggu, apa kau ingat tentang sesuatu-sesuatu di masa lalu yang
ingin kau perbaiki tetapi selalu semakin memburuk? Hahahaha.
No comments:
Post a Comment